My funniest moment
Manusia terkadang sering melakukan kebodohan. Bukan karena dia bodoh namun alam bawah sadarnya yg menuntunnya untuk bertindak di luar kendali. Disadari atau tidak, hal ini merupakan warna warni dalam kehidupan manusia. Sangat menyenangkan untuk dikenang dan diceritakan. Hal inilah yang menginspirasiku menulis blog tentang momen-momen lucu yang kuingat sepanjang hidupku. Mungkin ga akan cukup satu seri dan akan berlanjut ke session berikutnya (alias to be continued). Begini ceritanya…
Story 1: Me and My Motorcycle
Aku adalah seorang motorist meskipun ga bisa dibilang pembalap karena emang paling ga jago balapan dan sering banget tabrakan (hal yang ga patut dibanggakan sebenarnya). Aku mulai naik motor waktu masa SMA, tepatnya kelas dua. Menyenangkan sekali bisa mengendarai motor sendiri ke sekolah. Meskipun tanpa SIM ga pernah sekalipun aku ditilang oleh polisi (kalo ini patut dibanggakan, hehehe). Sepulang sekolah aku bersama gengku (di SMA aku punya geng yang sangat solid, terdiri dari para cewek2 yg satu ide dan pikiran seperti; Shinjo, Epi, Kiky, Ambar, Atun, Uti, Ajeng, dll. Bagi yang ga disebut jangan marah ya…bener2 lupa neh). Yg paling sering nebeng aku pulang adalah Shinjo dan Epi karena kita sejalur. Jadi sering banget aku pulang bareng mereka.
Suatu hari aku dan Epi naik motor dalam perjalanan ke rumah Shinjo. Oh ya perlu aku jelaskan dulu gimana “bentuk’ Epi. Karena ini berhubungan dengan kejadian selanjutnya. Epi tu orangnya kecil. Kayaknya dari SMP berat badannya ga pernah naik lagi, stuck sampe disitu (hehe sorry ya Pi). Tapi orangnya putih dan imut. Trus gampang gelian orangnya. OK cukup segitu aja aku ga mau diprotes ama yg bersangkutan. Selanjutnya kami sampai di rumah Shinjo yang sebenarnya deket banget ama rumah Epi. Kami ngobrol2 sebentar disana lalu undur diri karena waktu sudah sore. Perlu kujelaskan juga letak geografis rumah Shinjo. Jadi rumah Shinjo tu terpencil di antara pohon bambu. Jalan menuju dan keluar rumahnya lumayan tidak dirambah oleh pembangunan (alias jalan ndeso). Jadi banyak batu-batu dan tanah-tanah yang bikin motor rada susah lewat. Alkisah ada sebuah tanjakan di gang yang mau keluar rumahnya. Berhubung motorku adalah motor second (Honda Astrea keluaran tahun 1989), doi ga bisa melewati tanjakan itu dengan mulus. Lalu aku meminta Epi untuk turun sebentar untuk mengurangi beban kendaraan. Hehe. Akhirnya Epi turun dan walhasil setelah gigi motor kuturunkan, motor pun bisa melewati tanjakan dengan mulus. Tanpa menengok ke belakang aku meminta Epi naik lagi. “Pi dah naik lagi!”. Lalu aku melanjutkan tugasku untuk mengantarkan Epi ke rumahnya yang jaraknya mungkin sekitar 100m dari rumah Shinjo. Selang beberapa meter, aku mendengar orang berteriak dari belakang. “Vita, Vita tunggu……!”. Aku berpikir “suara siapa tu ya?”. Lalu aku menengok ke belakang “Lo, Epi kwemana?”. Tiba-tiba ada makhluk kecil yang berlari mengejarku sambil ketawa geli. Dan ternyata makhluk itu adalah. “Oalah Epi bukannya tadi dah naik?”. Aku juga tertawa geli diikuti beberapa orang yang juga menyaksikan kejadian itu. Ternyata Epi ketinggalan di belakang. Karena tubuhnya kecil mungil jadi ga ada bedanya rasanya saat dia naik ataupun turun dari motor. Serasa tak membawa apa-apa. Kami berdua tertawa geli sepanjang jalan menyadari kekonyolan tadi. Tapi setelah lebih dari 7 tahun pun aku masih mengingatnya dan suka tertawa sendiri kalo membayangkannya.

